Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning 5 Alasan Kuliah di Thailand – Heri Akhmadi

5 Alasan Kuliah di Thailand

Oleh: Heri Akhmadi, S.P., M.A.*

Saya sering ditanya oleh beberapa teman, ”kenapa sih ambil S2 di Thailand?”. Bahkan teman saya yang asli Thailand pun menanyakan hal serupa. Hal ini wajar saja karena memang Thailand bukan tujuan “konvensional” umumnya pelajar Indonesia untuk studi S2 atau S3. Bahkan warga Thailand sendiri juga heran koq bisa pelajar Indonesia memilih negaranya untuk studi lanjut di sana.

Pertanyaan lain yang sering ditanyakan juga adalah, apa sih istimewanya Thailand sehingga seseorang – yang bukan warga negara Thailand – memutuskan menempuh pendidikannya di sana?, apa keunggulan pendidikan di Thailand yang membuat pelajar Indonesia memilihnya dibanding ke negara lainnya?. Pertanyaan-pertanyaan itu dan pertanyaan serupa akan saya coba jawab – berdasarkan pengalaman saya studi di sana – dalam tulisan saya kali ini tentang “5 Alasan Studi Lanjut di Thailand” semoga bisa memberikan jawaban. Selamat membaca….

Alasan Pertama, Kualitas Pendidikan Thailand lebih bagus dari Indonesia

Ini barangkali alasan “Ideologis”. Ya, tentu wajar kalau kita melanjutkan jenjang pendidikan ke institusi yang kualitasnya lebih baik dari sebelumnya. Dan tahukah anda bahwa meski memang Thailand tidak sekaya Amerika, tidak seterkenal Eropa, tidak secanggih Jepang bahkan tidak sebersih Singapura namun dalam bidang pendidikan (tinggi) masih lebih baik dari Indonesia. Tentu tidak semua kampus di Thailand lebih unggul dari Indonesia, tetapi kita bandingkan saja kampus-besarnya dengan kampus unggulan kita di Indonesia semisal UI, UGM, ITB atau IPB dengan kampus-kampus besar Thailand seperti Chulalongkorn University, Mahidol, Kasetsart atau Thamassat University. Mudah saja, kita lihat peringkat universitasnya di lembaga pemeringkat semisal QS World, Webrometic atau TimesHigher. Data terbaru tahun 2015 bisa dilihat dalam tabel berikut:

Tabel Peringkat Universitas Tahun 2015

No

Universitas

Negara

Peringkat QS World

Peringkat Webometrics

1

Chulalongkorn Thailand 253 422

2

Mahidol Thailand 295 299

3

Chiang Mai Thailand 551-600 481

4

Thammasat Thailand 601-650 793

5

Kasetsart Thailand 651-700 372
 

1

UI Indonesia 358 909

2

ITB Indonesia 431-440 781

3

UGM Indonesia 551-600 819

4

UNAIR Indonesia 701+ 1440

5

IPB Indonesia 701+ 1554

Sumber: QS World University Ranking dan Webometrics.

Tabel di atas menunjukkan bagaimana posisi beberapa perguruan tinggi Indonesia dibandingkan dengan Thailand. Terlihat bahwa meski tidak terpaut terlalu jauh, tapi secara peringkat harus kita akui bahwa pendidikan tinggi di Thailand masih lebih baik daripada negara kita Indonesia. Bahkan menurut data Times Higher Education World University Rankings 2015, dari 800 kampus top dunia di daftar mereka, Thailand mengirimkan 7 wakilnya (Chula, Mahidol, Chiang Mai, Khon Kaen, KMUTT, PSU dan Suranaree University) sementara Indonesia hanya bisa mengirimkan satu perwakilan yaitu UI, itu pun di kisaran rangking 601-800. Sebuah gambaran akan seperti apa perbandingan antara kampus Indonesia dan Thailand.

Kalau anda masih belum yakin akan data-data ini, bisa dibandingkan juga mengenai publikasi ilmiah di jurnal internasional (yang terindex) antara kampus Indonesia dan Thailand. Mengutip data yang disampaikan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok, Dr. Yunardi Yusuf, dalam kata sambutannya sebagaimana dituilskan dalam Buku “Merah Putih di Negeri Gajah Putih” (2015), bahwa berdasarkan data dari SCOPUS (salah satu indeks jurnal terpercaya di dunia) yang diakses pada Bulan Agustus 2013, publikasi ilmiah internasional satu universitas di Thailand misal Mahidol University sejumlah 20.392 dan Chulalongkorn University sekitar 16.874, jauh mengalahkan publikasi ilmiah universitas-universitas unggulan di Indonesia misalnya ITB dengan 2.992 karya atau UI yang hanya sekitar 2.645 pada tahun yang sama. Hal ini cukup menjadi gambaran bagaimana kualitas pendidikan di negeri gajah putih ini dibandingkan dengan perguruan tinggi Indonesia. Meski tentu kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari itu saja.

Saya tentu sedang tidak bermaksud membuat kita rendah diri mengenai kualitas pendidikan tinggi kita, tapi saya hanya ingin mengajak kita semua untuk sadar akan realita bahwa negara tetangga sudah cukup jauh melangkah ke depan. Dan kalau kita tidak segera berbenah maka akan semakin jauh tertinggal.

Alasan kedua, Beasiswa

Ya beasiswa, siapa yang tidak mau beasiswa. Terlebih untuk studi di luar negeri yang jelas tidak pakai mata uang sendiri. Kalau boleh menamai, ini mungkin alasan “pragmatis” atau bisa juga alasan “ekonomis” hehe… Bayangkan saja untuk S2 di dalam negeri saja lumayan besar biayanya dan tidak semua orang bisa mengaksesnya. Terlebih menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Hanya mereka yang berkantong tebal atau punya orang tua super kaya yang bisa membiayai sendiri. Selebihnya orang-orang seperti saya harus berburu beasiswa untuk bisa mewujudkannya. Meski Thailand tidak semahal Jepang atau Singapura, tapi biaya kuliah plus biaya hidup tentu tidaklah murah.

Alhamdulillah sekarang tersedia banyak pillihan beasiswa untuk kuliah di Thailand. Bahkan beberapa kampus di Thailand seolah “sengaja” membuat program beasiswa khususnya untuk warga ASEAN. Dengan persyaratan dan birokrasi yang relatif mudah bahkan dibandingkan dengan mengakses beasiswa di dalam negeri. Pengalaman saya sendiri mendapat ASEAN Scholarship di Chulalongkorn University cukup dengan mengirimkan berkas-berkas persyaratan dan tinggal “duduk manis” menunggu pengumuman. Berdoa tentu wajib dan harus dilakukan sebagai bagian dari usaha. Bandingkan dengan beasiswa di dalam negeri yang harus melalui beberapa tahapan seleksi yang perlu waktu, biaya dan juga tenaga.

Mengenai “Beasiswa Kuliah di Thailand”, mengingat banyaknya pembaca yang menanyakan ke saya tentang prosedur dan jenisnya, Alhamdulillah sudah saya buatkan tulisan khusus mengenai macam-macam beasiswa dan persyaratannya yang ditawarkan oleh pemerintah dan universitas-universitas di Thailand. Lebih detail bisa dibaca pada tulisan saya tentang “7 Beasiswa Kuliah di Thailand”.

Alasan Ketiga, Kesamaan Sosial Ekonomi

Alasan lainnya yang kadang diungkapkan oleh mereka (saya) yang memilih kuliah di Thailand adalah karena kesamaan sosial ekonomi. Bisa dikatakan mungkin ini alasan “sosiologis”. Ya sebagai sama-sama negara berkembang, tentu ilmu dan pengalaman belajar di Thailand diharapkan bisa lebih mudah diaplikasikan setelah selesai studi dan pulang ke kampung halaman.

Selain itu, kultur sosial yang relati tidak jauh berbeda dengan Indonesia, juga mempermudah mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal ini tentu mengurangi cultural shock yang biasanya dialami mahasiswa yang studi di luar negeri. Sehingga akan mendukung mahasiswa dalam proses belajarnya. Seperti Thailand misalnya, kultur masyarakatnya yang ramah akan mengingatkan seperti keramahan warga Jogjakarta. Bahkan kalau anda jalan-jalan di pasar-pasar tradisional di Bangkok misalnya, anda akan dengan mudah menemukan “jajanan” pasar yang mirip sekali seperti biasa kita temukan di Indonesia. Misalnya lemper, ketan, serabi, bakwan dan lain-lainnya. Buah-buahan dan makanan sehari-harinya pun tidak jauh berbeda.

Alasan Keempat, Kedekatan lokasi

Thailand memang terletak ribuan kilometer dari Indonesia. Tapi dengan alat transportasi saat ini cukup ditempuh 3 jam saja dengan pesawat dari Jakarta (ke Bangkok). Bayangkan saja, saya yang tinggal di Purwokerto perlu setidaknya 5 jam untuk sampai ke Jakarta, padahal masih sama-sama di Indonesia. Ya, karena tidak ada pesawat (dan biar hemat) tentunya jadi pake kereta…hehe. Terlebih yang di Medan, menurut roommate saya di Thailand yang asli dari Medan, jauh lebih “dekat“ ke Bangkok bahkan daripada ke Palembang misalnya. Meski sama-sama naik pesawatnya. Tidak percaya?, saya juga awalnya tidak percaya. Alasannya sederhana, karena tidak ada direct flight dari Medan ke Palembang. Jadi pesawat yang mau ke Palembang harus transit ke Jakarta dahulu baru terbang lagi ke Palembang.

Barangkali anda akan bilang, meski dekat tapi naik pesawat kan mahal?. Ya tentu itu tidak salah, tapi kalo anda mau rajin melototin pergerakan harga saham….eh salah, maksudnya harga tiket pesawat berbiaya murah (low cost carrier) maka bukan tidak mungkin anda akan mendapatkan harga yang cukup terjangkau. Sekali lagi pengalaman teman saya yang asli medan bahkan pernah mendapatkan tiket promo Medan-Bangkok cuma 500an ribu perak!!…hampir sama dengan harga tiket kereta eksekutif Purwokerto-Jakarta yang sekitar 350 ribu.

Kelima, Biaya hidup relatif “murah”

Alasan terakhir ini masuk kategori alasan ekonomis. Dan Saya katakan relatif karena murah dan mahal itu bukan urusan duit, tapi lebih pada urusan dompet…hehe. Ya bagi yang berkantong tebal, makan satu porsi di foodcourt salah satu mall di Bangkok seharga 250 baht (sekitar Rp. 100.000, kurs 1 baht = Rp.400) mungkin biasa saja. Tapi bagi mahasiswa pas-pasan seperti saya tentu cukup makan di kantin kampus dengan harga yang cukup bersahabat sekitar 35 baht (Rp.12.000). Bahkan menurut cerita teman-teman yang kuliah di daerah “pinggiran” Bangkok seperti di Thammasat University kampus Rangsit (sekitar 45 menit dari Bangkok) atau di Asian Institute of Technology (AIT) di Pathumtani, mereka masih bisa menemukan warung makan dengan harga 20-25 baht (sekitar Rp.8.000-Rp.10.000) per porsi, dan halal lagi.

Amazing kan, padahal rata-rata biaya makan di Indonesia saja sekarang sudah naik cukup signifikan. Jaman saya kuliah S1 dulu, awal tahun 2000an (jadi kebuka kalo sudah senior ya…hehe) di Purwokerto masih bisa makan satu porsi Rp. 1.500 – 2.500. Sekarang rata-rata 10.000an ke atas. Bagaimana dengan Jakarta atau kota besar lainnya, saya kira anda sudah bisa membayangkan berapa kisaran harganya.

Dan satu lagi mengenai biaya hidup di Thailand yang perlu anda ketahui (maklum anak ekonomi kalo itungan duit memang…hehehe), tingkat inflasi di Thailand relatif rendah. berkisar antara 1-3 persen per tahun. Artinya, biaya hidup relatif “stabil”. Saya kasih contoh sederhana, waktu pertama kali saya datang ke Thailand, satu gelas Chayen (minuman teh tarik khas Thailand) bisa dibeli cukup dengan 2o baht (sekitar Rp. 8.000). Sampai saya lulus kuliah (sekitar 2 tahun), harganya tetap 20 baht. Beberapa makanan juga relatif tetap harganya. Padahal ketika saya pulang kampung ke Indonesia, kaget bukan main tahu harga-harga barang naiknya luar biasa. Contoh gampang baru keluar bandara naik DAMRI ke Stasiun Gambir, dulu (waktu mo berangkat ke Thailand) masih Rp. 25.000, saat pulang kampung sudah Rp. 40.000. Naik hampir 100%!, hanya dalam waktu 2 tahun saja…Masya Allah…hebatnya Indonesia…:-(

Mengenai biaya hidup dan memilih tempat tinggal saat kuliah di Thailand, mengingat banyaknya pembaca yang menanyakan ke saya tentang tersebut, silakan bisa dibaca pada tulisan saya tentang Memilih Tempat Tinggal dan Menghitung Biaya Hidup Kuliah di Thailand”. Pada tulisan tersebut saya bahas mengenai gambaran biaya hidup di Thailand (Bangkok khususnya) dan bagaimana memilih dan memilah tempat tinggal di sana.

Itulah sekilas tulisan saya mengenai 5 Alasan Studi Lanjut di Thailand. Semoga bisa menjawab rasa penasaran anda yang tertarik melanjutkan studi di Thailand. Bagi yang sudah pernah atau sedang studi disana, tentu masukan dan sarannya bisa ditambahkan untuk memperkaya tulisan ini. Semoga bermanfaat…

Ditulis dalam perjalanan antara Yogyakarta-Purwokerto, Selasa 2 February 2016.

*Dosen Prodi Agribisnis UMY, Peraih Beasiswa ASEAN Scholarship di MABE Program Faculty of Economics, Chulalongkorn University, Bangkok Thailand.

References:

 

25 Comments on 5 Alasan Kuliah di Thailand

  1. Alasan yg lain, belajar sambil travelling…gratis pula
    Trus alasan lain lagi, ketemu sesama pelajar indonesia tu serasa udah kenal dr lahir :D..nambah saudara..alhamdulillah

  2. Salam mas Heri,
    Wah, saya jadi kepengen study di Thailand. Beasiswa apa saja sih yang tersedia untuk study postgraduate? Saya kebetulan lagi studi master di Malaysia (by research – bidang science/Engineer)
    Apakah ada beasiswa PhD by research juga ya di Thailand?

    Terimakasih

  3. Wa’alaikumsalam…
    Salam kenal mas Mukti, maaf lg banyak jadwal ngajar jadi baru sempat lihat blog…hehe
    Beasiswa research untuk Ph.D banyak juga di Thailand, ada teman saya di AIT (Asian Institute of Technology) yang sedang studi by research untuk Ph.D.
    Di almamater saya, Chulalongkorn Univ juga ada. Bisa dilihat di graduate school chula…www.grad.chula.ac.id
    Monggo kalo mau ke Thailand…

  4. Saya mau tanya mas..apakah ada informasi beasiswa s1 ataupun short-couse di thailand? Terimakasih

  5. niat saya semakin bulat mengikuti dosen saya yg tahun ini berangkat ke thailand. memang kliatannya masih sangat terlalu awal untuk memikirkan kuliah S2 fisioterapi di thailand, namun ini mimpi saya yg besar dan menggebu-gebu saat ini semoga daat menyusul jejak kakak2 yg sudah terdahulu dan dapat membuat indonesia bangga. trimakasih atas infonya yg dpt mengispirasi banyak org

  6. makasih sudah mampir mas ilham bayu, biaya kuliah atau tuition fee di chula itu bervariasi tiap fakultas.

    sebagai contoh di jurusan say, MABE Faculty of Economy itu sekitar 23,000 baht (sekitar 9 jutaan rupiah) per semester.

    tapi ada teman saya di Faculty of Science yang biaya tuition fee nya sekitar 160,000 baht (sekitar 60 juta rupiah) per semester.

  7. sama2 mba Sera Ayu, semoga bermanfaat. maaf baru bales.

    sy ada teman jg di chula yang lg s2 fisioterapi. kalo tertarik kuliah di chula insyaAllah bisa sy kenalkan. barangkali mau sharing2

  8. kalo biaya sendiri di thailand mahal banget ya kak? aku pengen lanjut s2 sih rencananya. kira2 untuk awal2 harus siap berapa sih? terus test masuknya sesulit apa?

  9. tergantung kampus, jurusan dan tinggalnya dimana mba Vahlevi. Kalau di kampus saya dulu, Chula, untuk beberapa jurusan sains, seperti teknik, kedokteran bisa berkali lipat tuition feenya dibanding yang sosial. Demikian juga jika tinggal di Bangkok tentu lebih mahal dibanding yang di daerah pinggiran,.

    Untuk biaya hidup perbulan di bangkok, yg lajang sekitar 4 jutaan (termasuk kost) insyaAllah sudah cukup. Kalau spp tergantung ya.

    Test masuk untuk mahasiswa internasional sebenarnya lebih mudah dari pada mahasiswa thailand sendiri. sy dulu cuma kirim berkas ijazah, transkrip nilai dan toefl, plus proposal singkat thesis.

  10. saya sangat tertarik kuliah di thailand tapi masih bingung bagaimana cara memulai untuk bisa mendapat scholarship dsana. saya prnah ikut program exchange di thailand dan saya lgsg tertarik utk study master dsna saat ini saya masih mahasiswa s1 di salah satu stikes di yogyakarta. mohon pencerahan nya atau mungkin ada saran² tertentu yg bisa saya lakukan. terimakasih

2 Trackbacks & Pingbacks

  1. Beasiswa Kuliah di Thailand – Heri Akhmadi
  2. 5 Alasan Kuliah di Thailand | Heri Akhmadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*