Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Memilih Tempat Tinggal dan Menghitung Biaya Hidup Kuliah di Thailand – Heri Akhmadi

Memilih Tempat Tinggal dan Menghitung Biaya Hidup Kuliah di Thailand

Bangkok City View (pict. by bbc.com)

Oleh: Heri Akhmadi, M.A

Tulisan Memilih Tempat Tinggal dan Menghitung Biaya Hidup Kuliah di Thailand ini merupakan lanjutan dari rangkaian tulisan “Seri Kuliah di Thailand”. Tulisan ini lahir juga dari pertanyaan para para pembaca dan umumnya teman-teman yang tertarik atau akan melanjutkan kuliah di Thailand. Pertanyaan yang sering ditanyakan biasanya adalah mengenai dimana dan bagaimana memilih tempat tinggal (apartemen sebutannya kalau di Thailand) selama kuliah di sana.

Tinggal di negara baru – apalagi bagi yang baru pertama kali ke Thailand – tentu bukan perkara mudah. Kalau anda orang Jakarta mau kuliah di Jogja mungkin tinggal main sebentar ke Jogja barang sehari dua hari, sekalian searching-searching tempat kos barangkali tidak masalah. Namun meski Indonesia-Thailand hanya berjarak 3 jam perjalanan (dengan pesawat dari Jakarta), dan mungkin kebanyakan orang sudah juga pernah ke sana (Bangkok misalnya), namun bukan perkara mudah bagi yang akan menetap lama di sana untuk mencari tempat tinggal. Bahkan meskipun anda banyak uang dan bisa bayar berapapun harga sewa apartemen, tentu tetap mempertimbangkan lingkungan sebelum memilih suatu tempat menjadi rumah tinggal. Apalagi bagi seorang muslim yang akan tinggal di tanah Budha tentu juga mempertimbangkan akses kehalalan makanan, satu hal lainnya yang tak kalah pentingnya.

Untuk itu, semoga tulisan singkat ini bisa menjadi gambaran bagi yang membutuhkan informasi terkait dengan tempat tinggal dan biaya hidup di Thailand. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman hidup saya dua tahun lebih disana (dari bulan Maret 2013 hingga Juni 2015). Dan tentu Karena sekarang sudah tahun 2017 mungkin ada beberapa parameter keuangan yang sudah berubah (bisa naik bisa turun). Hanya saja berdasar pengalaman saya di Thailand, secara ekonomi tingkat inflasi di Thailand cukup rendah dan dengan tingkat pengangguran hampir nol (full employment) maka harga-harga relative stabil. Jadi meski sudah dua tahun berlalu insyaAllah masih bisa dijadikan rujukan. Tentu jika ada pembaca yang baik hati mempunyai info terkini saya akan sangat berterima kasih jika berkenan memberikan update informasi.

Hal berikutnya yang menjadi catatan dalam tulisan ini adalah bahwa parameter keuangan yang saya gunakan adalah dengan standar hidup di Bangkok, mengingat di sanalah saya pernah tinggal. Jadi kalau anda berencana tinggal di Chiang Mai misalnya (Salah satu provinsi di ujung utara Thailand), mungkin akan sedikit berbeda. Namun karena Bangkok merupakan ibukota dan kota terbesar di Thailand, bisa dikatakan harga di daerah lain umumnya lebih rendah.

Biaya Hidup di Thailand

Sebelum bicara mengenai dimana akan tinggal, akan lebih baik untuk mengenal seberapa besar tingkat biaya hidup di Thailand. Kerena tempat tinggal merupakan komponen penyusun biaya hidup. Sehingga dengan ini akan ada gambaran yang lebih luas seperti apa tingkat kehidupan di sana.

Berbicara mengenai biaya hidup tidak bisa dipisahkan dengan tingkat ekonomi dan pendapatan perkapita masyarakat. Sebagai informasi, upah minimum pekerja kasar di Thailand (Bangkok) adalah 300 baht per hari. Misalkan dengan kurs BI 1 baht = Rp. 395 (dibulatkan Rp. 400) berarti per hari sekitar Rp. 120.000. Secara sederhana bisa diambil kesimpulan bahwa biaya hidup minimal per hari menurut standar pemerintah Thailand adalah 300 baht atau Rp. 120.000 per hari (all in). Meski menurut professor saya disana, sangat susah mencari orang Thailand untuk sekedar jadi tukang kebun misalnya jika dibayar hanya 300 baht per hari. Dan kebanyakan mereka yang menjadi pekerja kasar ini adalah buruh migran dari negara tetangga Thailand seperti dari Myanmar dan Kamboja yang bekerja sebagai pekerja bangunan umumnya.

Bagaimana dengan standar biaya hidup pekerja lainnya? Jika anda bergelar sarjana (S1) maka anda layak untuk digaji sebesar minimal 16.000 baht (sekitar 6 jutaan) perbulan di Thailand. Saya sendiri tidak paham kenapa segitu angkanya. Yang saya tahu segitu juga living cost yang saya terima dari beasiswa ASEAN Scholarship setiap bulan. Barangkali karena sebagai mahasiswa S2 seperti saya dianggap setingkat dengan lulusan S1 kalau bekerja. Faktanya memang kita semua lulusan S1 yang sedang menempuh studi S2, mungkin itu alasannya. Lebih detail mengenai rata-rata penghasilan pekerja di Thailand bisa dilihat di sini.

Itulah gambaran besarnya standar biaya hidup jika dilihat dari “sisi penerimaan”. Bagaimana dengan sisi pengeluaran?. Bicara sisi pengeluaran bisa dilihat dari banyak sisi. Pertama umumnya dari biaya makan. Sebagai gambaran biaya sekali makan di Bangkok antara 35 baht sampai 75 baht (sekira 13 sampai 28 ribuan rupiah) per porsi. Ini adalah harga untuk standar mahasiswa dan harga di kedai biasa ya (di kantin kampus, warung pinggir jalan atau food court swalayan). Namun jika anda ingin merasakan masakan kelas restoran anda harus menyiapkan paling tidak minimal 200 baht per porsi (80 ribuan). Tentu harga ini relative dengan kelas restoran/rumah makan dan menunya. Untuk minuman anda cukup merogoh kocek 20 baht sudah bisa mendapatkan satu gelas Cha Yen, minuman the tarik khas Thailand. Atau kalau anda mau lebih sehat dan hemat cukup dengan 8 baht bisa mendapatkan 1 botol sedang (ukuran 600 ml) air mineral. Kalau mau lebih ngirit lagi, cukup minum air putih yang disediakan.

Sisi pengeluaran lainnya adalah biaya transportasi dan komunikasi. Secara umum transportasi di Thailand, Bangkok khususnya sudah baik. Jauh lebih baik dibanding Jakarta…hehe. Ada beberapa model dari Bus, Kereta Api, Skytrain/BTS (kereta layang), Taksi, Van/Travel, Tuk-Tuk (becak motor khas Thailand), boat (angkutan sungai) bahkan Ojek (ojek resmi berseragam dan terdaftar).

Dari sisi biaya, pengeluaran untuk transportasi relatif murah, bahkan jauh lebih murah dari Indonesia. Bus misalnya, mulai dari minimal 6,5 baht (sekitar Rp. 2.500) untuk bus ekonomi, dan paling tinggi 11 baht (sekitar Rp. 4.500) sejauh trayeknya, beberapa bahkan gratis (bus gratis dari pemerintah). Untuk Bus AC mulai dari 11 baht hingga puluhan baht sesuai jaraknya. Kereta api juga murah meriah, kecuali BTS yang agak mahal sedikit tapi masih terjangkau. Taksi yang banyak berseliweran di kota dan mudah didapatkan juga relatif murah, tarif minimal cuma 35 baht (sekitar Rp. 11.000). Bandingkan dengan di Jakarta yang minimal Rp. 40.000, bahkan kota menengah seperti Purwokerto tarif minimal taksi Rp. 25.000.

Bagaimana dengan biaya komunikasi?. Secara umum tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Demikian juga aksesabilitasnya, gampang dicari. Bahkan untuk biaya telfon/call (mobilephone) relatif lebih murah. Paling biaya sms yang lebih mahal dari Indonesia. Tapi Alhamdulilah sekarang sudah jarang yang menggunakan sms.

Memilih Tempat Tinggal/Apartemen

Setelah tahu gambaran biaya hidup di Thailand, saya kira anda sudah bisa membayangkan berapa minimal yang diperlukan untuk hidup di sana. Selanjutnya tiba saatnya kita bicara tempat tinggal atau di sana umumnya dikenal dengan apartemen. Meski kadang bentuknya seperti kos-kosan kalau di Indonesia. Maklum orang Thai gak kenal istilah kos-kosan…hehe. Dan jangan anda bayangkan kalau apartemen seperti di Jakarta yang mewah dan menjulang tinggi gedungnya. Untuk sebagian, terutama untuk apartemen pekerja memang iya. Tapi kalau untuk aparteman kelas mahasiswa jelas tidak semewah itu. Kembali ke prinsip, ada harga ada rupa…hehe

Terkait tempat tinggal, umumnya mahasiswa memilih tinggal di sekitar kampus. Bagi kampus yang menyediakan dorm/asrama bisa juga jadi pilihan asal sesuai. Karena kampus seperti Chulalongkorn University baru saja melaunching “Chulalongkorn University International House (CU iHouse)”, dorm untuk International Student yang harganya relatif mahal untuk kantong mahasiswa seperti saya. Biaya sewanya minimal THB 14.000 per bulan, dengan stipend THB 16.000, bisa puasa sepanjang bulan saya…hehe. Letaknya memang strategis di komplek kampus, dekat dengan pusat perbelanjaan MBK Center dan fasilitasnya lengkap (free wifi, water and electricity and full furnished). Chula memang ada dorm lama, tapi umumnya untuk mahasiswa S1 dan asli Thailand.

Chulalongkorn University International House or CU iHouse, Dormitori Mahasiswa Chula Yang Baru (Pict. chula.ac.th)

Lain halnya dengan Asian Institute of Technology (AIT) dan Kasetsart University, di kampusnya tersedia dorm dengan harga relatif terjangkau. Detailnya saya tidak tahu tapi menurut pengalaman teman yang kuliah di sana, masih harga mahasiswa…hehe. Dan enaknya bisa bawa keluarga dan anak-anak. Karena beberapa apartemen di Bangkok tidak mengizinkan bawa keluarga dan anak-anak.

Memilih dan mencari apartemen itu gampang-gampang susah, bahkan kadang seperti mencari jodoh. Banyak pertimbangan yang diperlukan. Pada umumnya ada 3 hal yang dipertimbangkan:

  1. Harga
  2. Lokasi
  3. Lingkungan

Harga jelas kaitannya dengan kemampuan membayar biaya sewanya. Meski ukuran harga bukanlah satuan mata uang, tapi tebal-tipisnya dompet anda…hehe. Jadi pada dasarnya harga ini relatif, sesuai dengan daya beli anda. Adapun lokasi biasanya pertimbangan jauh dekatnya ke kampus dan mudah tidaknya akses transportasi. Sedangkan lingkungan biasanya terkait dengan aspek sosial dan (terkadang) makanan. Aspek sosial tentu dilihat dari banyak aspek misalnya masalah keamanan dan kenyamanan. Ini juga terkait dengan pertimbangan terakhir, misalnya soal makanan.

Dua aspek ini menjadi penting, misalnya bagi anda yang muslim. Mengingat Thailand adalah negara dengan mayoritas Budha, umumnya mereka mengkonsumsi babi dengan segala varian produknya, mulai dari daging, kerupuk sampai minyak. Untuk itu beberapa teman mahasiswa memilih tinggal di kampung muslim yang banyak terdapat di Thailand dengan pertimbangan dekat dengan masjid dan mudah mencari makanan halal . Barangkali anda baru tahu kalau Bangkok termasuk salah satu provinsi dengan jumlah muslim yang banyak tinggal di Thailand. Misal di daerah Petchburi Road Soi 5, Soi 7 dan Soi 11 (dekat KBRI) , daerah Ramkamkhaeng, Minburi dan sekitar sungai Chao Praya.

Bagi yang kuliah di Chulalongkorn University atau Mahidol University kampus Phaya Thai, pilihan tinggal di sekitar Petchburi Road Soi 5 dan Soi 7 barangkali pilihan yang ideal. Selain dekat dengan kampus dan KBRI, mudah akses transportasi juga merupakan kawasan kampung muslim. Sehingga mudah mencari makanan halal. Harganya juga relatif terjangkau, mulai dari THB 4.500 per bulan sampai THB 14.000 ada di sini (exclude listrik dan air. Untuk internet bervariasi ada yang free ada yang bayar). Saya sendiri pernah satu tahun tinggal di kawasan ini hingga lulus.

Di sekitar kawasan ini masih di Pecthburi Road juga bisa dipertimbangkan. Bahkan di daerah Soi 11 pernah ada “Athen Apartment”, sebuah apartemen 6 lantai yang dulu dikenal sebagai “Kampung Indonesia di Thailand”, mengingat banyaknya WNI yang tinggal di sana. Umumnya memang pegawai KBRI mengingat letaknya hanya sekitar 200 meter dari Kedutaan. Saya sendiri dan beberapa mahasiwa (ada sekitar 10 mahasiswa) pernah tinggal sekitar 1 tahun disana sebelum “dipaksa” pindah karena dijual pemiliknya untuk dirubah menjadi hotel. Letaknya strategis di kawasan wisata Bangkok, Pratunam Market. Kamarnya besar, ada kitchen set, bisa bawa keluarga dan yang pasti banyak orang Indonesianya. Harganya juga relatif murah untuk lokasi yang strategis, mulai dari THB 6.500 perbulan (exclude listrik, air dan internet).

Athen Apartemen Tampak dari Gang 11 Petchburi Road, dekat KBRI Bangkok (gambar sebelum direnovasi sebagai hotel)

Demikian sementara tulisan tentang memilih tempat tinggal di Thailand dan gambaran biaya hidupnya. InsyaAllah ke depan akan saya tambahkan informasi lainnya. Bagi pembaca yang mau menambahkan atau koreksi saya ucapkan terima kasih.

Semoga bermanfaat..

Yogyakarta, 14 Juli 2017

Note:

  • Soi=gang

19 Comments on Memilih Tempat Tinggal dan Menghitung Biaya Hidup Kuliah di Thailand

  1. Assalamualaikum wr wb.. berdasarkan blog yg bapak buat, saya sangat tertarik ingin melanjutkan kuliah di thailand. impian saya ingin berkuliah dithailand sangat tinggi,dikarenakan universitas di thailand banyak yg top university in the world. sekirannya bapak bisa membagi pengalaman selama kuliah di chulalongkorn university. email saya : muhamaddicky1107@gmail.com terima kasih sebelumnya, sukses terus pak.

  2. mas heri, sy mau nanya kira2 kalo untuk biaya hidup normal sebulan berkisar berapa THB ya untuk makan, tempat tinggal, dan lain2nya?

  3. Seperti di tulisan saya, biaya hidup tergantung lifestyle masing-masing. Tapi standar normal (untuk Bangkok) menggunakan standar hidup di sana minimal 300 baht perhari. Kisarannnya sekitar 10 rb baht per bulan.

  4. Mas Heri, di atas mas Heri menyebutkan biaya hidup di Bangkok 10 rb bath per bulan, itu untuk biaya apa saja ya..? dan tahun berapa? Terima kasih

  5. Mas Naufal, 10rb baht per bulan itu perhitungan saya berdasarkan pengalaman hidup disana antara tahun 2013-2015. Dengan trend inflasi Thailand yang relatif kecil (1%-3% yoy), saya kira masih relevan saat ini. Kemungkinan naik pasti ada tapi masih tidak terlalu drastis seperti di Indonesia. KOmponen biayanya untuk sewa apartemen (dari 4500-6000, standar mahasiswa), makan, transportasi dan komunikasi sekitar 4000-5000. Anyway, tentu tergantung lifestyle masing-masing, tp sekali lagi sy menggunakan standar minimal mahasiswa. Dan ini juga kisah nyata saya ada teman yang kuliah bareng saya mulainya dan selesai belum lama ini (ambil Ph.D) dengan beasiswa “cuma” 10000/bulan Alhamdulillah bisa lulus…hehe

  6. assalamualaikum, pak ikut nimbrung ya, kl dirumah sakit thailan bahasa yg dipake english/thailan ya pak?
    kebetulan dr kampus ada program praktek farmasi klinis dirumah sakit thailand, kemudian untuk tulisan yg dipake disana apakah like as hanacara?

  7. Wa’alaikumsalam warahmatullah…Wah mba Ella ini mengingatkan saya pengalaman kelahiran anak saya yang pertama di Thailand. Kalau di Bangkok, tergantung rumah sakitnya ya. Kalau international hospital (ex: Bamrungrad Hospital, Phayatai Hospital) tentu menggunakan bahasa Inggris, meski juga bisa bahasa Thai. Tapi kalau rumah sakit lokal atau pemerintah umumnya menggunakan bahasa Thai, baik di percakapan maupun tanda/sign di gedung rumah sakitnya. MIsal pengalaman saya dulu di Ramathibodi Hospital, rumah sakit pendidikan pusat Fakultas Kedokteran Mahidol University hampir sebagian besar tanda/sign menggunakan bahasa Thai. Kcuali gedung yang baru, sudah bilingual. Untuk dokter umumnya bisa bahasa Inggris, karena umumnya mereka dosen dan lulusan kampus luar negeri. Untuk perawat, ada beberapa yang bisa bahasa Inggris tp kebanyakan hanya bisa bahasa Thai…hehe. Demikian jg untuk pegawai rumah sakit, satpam dll mostly mereka hanya bisa bahasa Thai. Ya itung-itung belajar gratis bahasa Thai…hehe

  8. Assalamualaikum mas saya mau bertanya banyak nih soal beasiswa di thailand yang di mahidol university apakah asramanya gratis kalau mendapatkan beasiswa?

  9. Pak Heri maaf ya saya mau tanya kalo misalkan ingin kuliah di Thailand rata” universitasnya mengunakan bahasa Inggris apa Thailand ya?

  10. Assalamualaikum Kak Heri
    Kak mau nanya, kemaren kakak ngambil jurusan s2 apa yah?
    Terus ada saran nggak kak, kalo semisalnya saya mau ngambil s2 komunikasi di thailand sebaiknya mempertimbangkan universitas apa saja?
    Terimakasih kak

  11. assalamu’alaikum pak Heri, saya sangat membutuhkan informasi dari pak Heri, kebetulan saya bekerja di Salah Kampus Negeri Pariwisata di Medan, dan sedang dalam proses pengiriman mahasiswa yang akan Magang di Salah satu hotel diBangkok,Hotel tersebut memberikan allowance 10 rb bath sebulan, hanya saja saya kesulitan mencari kosan untuk mahassiswa kami yang akan magang disana, beserta pengurusan Visa disana, mohon bantuannya Pak, jika berkenan saya meminta nomor hp pak Heri dan saya lampirkan alamat email saya pak, Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan Teerima kasih.
    syahfitrinova@gmail.com

  12. Wa’alaikumsalam warahmatullah…Mas Kevin, sy dulu ambil Bisnis Manajemen di Chula (MABE Program). Di Chula ada Faculty of Comunication Arts, dulu ada teman jg yang satu angkatan ambil jurusan itu. Kalau mau ambil komunikasi bisa di Chula atau Thammasat University.

  13. Siska, itu tergantung programnya. Kalau reguler mosthly in Thai language. Kalau sudah international program umumnya bahasa Inggris atau bahasa dari program itu. Misal sastra Prancis bisa dg bahasa prancis selain inggris.

  14. Mba Wini, saya bukan alumni Mahidol jadi tidak begitu tahu mengenai dorm/asrama mahasiswa di sana. Tapi dari info teman saya yang kuliah di sana setahu sj tetap bayar, meski dipotong dari livingcost beasiswa.

  15. Terima kasih banyak kak atas informasinya
    Oh yah, karena kak Heri ada teman yang pernah mengambil Faculty of Comunication Arts di Chula, bolehkah saya meminta kontak beliau (whatsapp, line, no telepon atau email) untuk sekadar bertanya-tanya seputar rencana studi saya dan menjalin silaturahmi dengan beliau. Jika kak Heri memiliki kontak beliau dan berkenan membagikannya pada saya, tolong kirimkan di email saya kak : killvingeranium@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*