Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Mendidik Anak Di Era Digital – Blog Pak Heri

Mendidik Anak Di Era Digital

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan saya mengenai “Mendidik Anak Di Era Digital” merupakan materi khutbah yang insyaAllah saya sampaikan pada hari ini, Jumat 6 Juli 2018 di Masjid Al Amin Godekan, Tamantirto Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Fenomena Milenial

Ditengah hiruk pikuk pilkada yang baru saja usai dan gegap gempita piala dunia sudah masuk babak perempat final, masyarakat Indonesia baru saja dihebohkan dengan berita di dunia maya, yaitu tentang fenomena aplikasi sosial media Tik-Tok. Hal ini menjadi semakin ramai atau viral setelah pemerintah, tepatnya Kemenkominfo memblokir aplikasi ini pada hari Selasa, 3 Juli 2018 yang lalu.

Ada beberapa alasan yang mendasari alasan pemblokiran ini selain karena adanya ribuan laporan dari masyarakat tentang dampak negatif aplikasi ini juga hasil telaah pemerintah sebagai mana disampaikan oleh Menkominfo Rudiantara yang milihat bahwa terdapat banyak konten negatif di platform tersebut. “Banyak kontennya yang negatif, terutama bagi anak-anak,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (3/6). “Ada yang tidak senonoh, tidak mendidik, pokoknya tidak pantas untuk anak-anak.”.[1]

Barangkali beberapa diantara anda ada yang belum begitu familiar dengan aplikasi ini. Saya sendiri juga tidak begitu paham, meski tahu. Pertama jelas bukan pengguna. Kedua memang ini tergolong aplikasi baru, belum ada satu tahun di Indonesia. Dan sasaran penggunanya adalah anak muda, atau ABG. Hanya saja sebagai peneliti dan pengajar berkaitan dengan TI sy mengikuti perkembangan. Terutama setelah menjadi heboh beberapa hari sebelum diblokir pemerintaah, salah satunya dengan fenomena seorang sebritas Tik Tik “selebtok”, atau tokoh tik tok yang dikenal “Bowo Alphenlieble” yang oleh sebagian para pengikut/followernya bahkan disebut sebagai “Tuhan Bowo”.

Dikutip dari BBC.com, anak berusia 13 tahun asal Jakarta ini hanya dalam beberapa bulan sudah mempunya ratusan ribu pengikut, yang sebagian besar kaum hawa usia belasan. Prabowo Mondardo, dengan akun Tik Tok Bowoo_Outt_Siders yang punya lebih dari 840 ribu fans dan video-video singkatnya telah disukai lebih lebih dari 7,4 juta kali.[2] Saking ngefansnya bahkan ada yang Bahkan, ada beberapa penggemarnya mengatakan ingin membuat sebuah agama dengan Bowo sebagai Tuhannya. Tak hanya itu, ada juga ungkapan penggemar lainnya yang bahkan (maaf) bersedia merelakan status keperawanannya demi “Tuhannya” ini.[3]

Lantas apakah aplikasi Tik Tok itu si…Demikian sekilas fakta Tiktok: [4]

  1. Aplikasi Tik Tok diciptakan oleh pemuda asal Tiongkok, Zhang Yiming melalui perusahaan induk ByteDance pada September 2016. Aplikasi yang berasal dari China ini di negara asalnya dikenal dengan nama Dou Yin. Induk perusahaan itu memutuskan memakai nama Tik Tok dalam ekspansinya ke mancanegara pada akhir tahun 2017. Masuk Indonesia September 2017
  2. Berdasarkan keterangan di Google Play Store, Tik Tok merupakan sebuah platform sosial video pendek yang didukung suara musik. Dengan aplikasi ini pengguna dapat dengan mudah membuat video unik dan membagikannya ke seluruh orang melalui media sosial. Tik Tok memang disegmentasikan untuk para generasi millenial.
  3. Dilansir dari Bussines Insider, Tik Tok telah diunduh sebanyak 45,8 juta di seluruh dunia.

Pada dasarnya aplikasi ini seperti semua aplikasi sosial media lainnya bukanlah aplikasi yang jelas-jelas mengarahkan untuk sesuatu yang terlarang, namun demikian karena platformnya memberikan kebebasan mengkreasikan sesuatu tentu bisa mempunyai sisi positif dan negatif. Terlebih karena di aplikasi ini pengguna mempunyai ruang untuk mengkreasikan ekspresinya.

Namun demikian ketika sudah sedemikan parah bahkan ada yang mau membuat agama baru, dan tuhan baru tentu tidak bisa dibiarkan. Hal ini terkait masalah akidah, hal mendasar yang sangat membahayakan. Terlebih ini melanda pada anak-anak, calon generasi bangsa. Ini tentu menjadi tantangan bagi orang tua, pendidik dan pemerintah dalam mendidik anak di era milenial. Terlebih perintah Allah dalam Al Quran tentang mendidik generasi masa depan sangat jelas dalam Al Quran:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

 

Beberapa ahli tafsir seperti Prof. Quraish Sihab dalam Tafsir Al Misbah dan Sayyid Qutb dalam Tafsir Fii Dzilal mengatakan bahwa, memaknai ayat ini tidak bisa dilepaskan dari ayat sebelumnya.

  1. Pada ayat 8 terdapat perintah untuk memberikan sebagian harta kepada kaum kerabat, anak yatim dan orang miskin yang tidak akan mendapat warisan. Ayat 9 ini memberikan bimbingan bahwa perlunya mempersiapkan kesejahteraan turunan. Jangan sampai ada anak yang ditinggal wafat dalam keadaan lemah kesejahteraannya.
  2. Namun demikian, dalam ayat 9 ini juga tersirat bahwa tanggung jawab terhadap turunan, bukan hanya bersifat materi, tapi juga immateri seperti pendidikan dan pembinaan taqwa.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa esseni Qs. An-Nisa 4: 9 antara lain

  • setiap orang tua hendaknya merasa khawatir jika meninggalkan keturunanya dalam keadaan lemah
  • mewujudkan generasi berkualitas merupakan tanggung jawab orang tua,
  • bekal yang paling utama disediakan pada generasi muda adalah taqwa dan pendidikan yang baik.

Karakteristik Era Digital

Saat ini kita masuk pada suatu era yang disebut sebagai era digital. Era digital ini mempunyai beberapa ciri diantaranya:

Era tanpa sekat, orang bisa terkenal dengan sekejap yg tidak bisa didapatkan zaman dahulu (era televisi dan radio). Kata Prof.Renald Kasali, saat ini kita berhadapan dengan “musuh-musuh” yang tidak kelihatan.

  1. Era kebebasan, siapa saja bisa memposting apapun bahkan tanpa sensor
  2. Era kesetaraan, semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi terkenal

Di era digital ini kita juga mengenal istilah “generasi milenial”. Generasi milenial (millennial generations), menurut Psikolog, Ririn Sani, adalah generasi yang lahir dari tahun 1982-1994. Mempunyai karakteristik antara lain [5]:

  • Tech savvy, adalah seseorang yang sangat mengerti mengenai teknologi modern; juga
  • Group oriented yaitu yang sangat mementingkan pertemanan kelompok, sehingga mempunyai kecenderungan gampang terpengaruh;
  • dan juga generasi yang menolak ide atau teori-teori yang menurut mereka sudah outdated.

Mendidik anak di era digital tentu tidak bisa disamakan dengan era lainnya. Kita juga mengenal ungkapan Ali bin Abi Thalib [6]:

“Wahai Kaum Muslim, didiklah anak-anak mu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu”

Kalau dulu dikenal dengan gaya mendidik “helicopter parenting”. Dimana orang tua akan memantau terus anaknya dan melakukan proteksi, tentu saat ini tidak bisa diterapkan lagi. Di era digital saat ini perlu difikirkan cara yang sesuai dengan zamannya. Oleh karena itu, melihat karakteristik era digital, ada beberapa metodologi pembelajaran yang patut dipertimbangkan dalam mendidik generasi milenial, yaitu:

Pertama, keteladan/ exemplary

Orang tua harus memberikan keteladan terlebih dahulu kepada para anak-anak tentang nilai-nilai agama, akhlak dan budi pekerti lainnya. Generasi milenial cenderung akan lebih taat asas/aturan, apabila orang tua tidak hanya memberi contoh tapi juga menjadi contoh. Orang tua sebaiknya menjadikan diri mereka sebaga sumber inspirasi keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia bagi para murid.[5]

Kedua, collaborative approach.

Dengan adanya aneka macam pola asuh alternatif yang disajikan di media-media massa konvensional dan digital saat ini, pakem-pakem dalam membesarkan anak pun bergeser. Pun demikian dengan keterlibatan penuh orangtua dalam hidup anak, khususnya mereka yang masih duduk di bangku pendidikan dasar atau masih remaja. Gaya mendikte para orangtua dari milenial ditinggalkan. Kini, kolaborasi dengan anak menjadi tren dalam mengasuh anak bagi kaum milenial. Orang tua milenial harus sering mendengarkan dan bernegosiasi dengan anak untuk banyak hal yang akan mereka lakukan. [7]

Ketiga, menjadikan anak sebagai teman

Kecenderungan generasi milenial tidak terlalu suka kepada aturan yang mengekang, itulah mengapa mereka lebih cenderung untuk menghindari kehidupan sosial yang nyata. Bagi mereka, kehidupan maya lebih menghargai dan mengapresiasi eksistensi mereka. Oleh karena itu, para orang tua, dituntut untuk lebih sabar dan lebih toleran dalam memberi batasan-batasan bagi mereka.

Cara pandang orang tua milenial terhadap anaknya sebaiknya tidak selamanya hierarkis. Orang tua hendaknya menganggap anaknya sebagai teman. Berikan hak kepada anak untuk komplain kalau-kalau ada sesuatu yang tidak sesuai keinginan atau pemikirannya. Saat anak berbuat salah, berikan pemahaman kepadanya, bukan langsung memarahinya.[7]

Demikian beberapa hal terkait mendidik anak di era digital. Sebagai orang tua tentu kita harus terus belajar, mengikuti perkembangan zaman sehingga anak-anak kita pun siap menghadapi zamannya. Wallahu A’lam

 

Referencess:

[1]         CNNIndonesia, “Alasan Kominfo Blokir Tik Tok,” 2018. [Online]. Available: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180703181921-185-311178/alasan-kominfo-blokir-tik-tok.

[2]         BBC.com, “Kenapa aplikasi Tik Tok diblokir pemerintah?,” 2018. [Online]. Available: http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-44693331. [Accessed: 06-Jul-2018].

[3]         Tribunjakarta.com, “Bowo Alpenliebe Mendadak Viral Hingga Fans Sebut Idola Jadi Tuhan,” 2018. [Online]. Available: http://jakarta.tribunnews.com/2018/07/03/bowo-alpenliebe-mendadak-viral-hingga-fans-sebut-idola-jadi-tuhan-deddy-corbuzier-angkat-bicara.

[4]         M. Yani, “Mengenal Tik Tok, Aplikasi yang Tak Penah Dipakai Penciptanya,” 2018. [Online]. Available: https://merahputih.com/post/read/mengenal-tik-tok-aplikasi-yang-tak-pernah-dipakai-penciptanya. [Accessed: 06-Jul-2018].

[5]         RRI, “Menjadi Guru Hebat Mendidik Generasi Milenial Perspektif Sekolah Ramah HAM,” 2017. [Online]. Available: http://rri.co.id/post/berita/461094/nasional/menjadi_guru_hebat_mendidik_generasi_milenial_perspektif_sekolah_ramah_ham.html. [Accessed: 08-Jul-2018].

[6]         Hidayatullah.com, “Didiklah Anak Kita Sesuai Zamannya!,” 2017. [Online]. Available: https://www.hidayatullah.com/redaksi/surat-pembaca/read/2017/03/06/112912/didiklah-anak-kita-sesuai-zamannya.html. [Accessed: 06-Jul-2018].

[7]         P. Kirnandita, “Mengasuh Anak Ala Milenial,” 2017. [Online]. Available: https://tirto.id/mengasuh-anak-ala-milenial-cvLg. [Accessed: 08-Jul-2018].

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*