Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Merah Putih di Negeri Gajah Putih – Heri Akhmadi

Merah Putih di Negeri Gajah Putih

Tulisan yang saya beri judul “Merah Putih di Negeri Gajah Putih”, merupakan resensi dari Buku Perjalanan 10 Tahun Mahasiswa Indonesia di Thailand yang juga mengambil judul yang sama. Mengingat diterbitkan dalam jumlah yang terbatas sehingga tidak semua bisa mendapatkan (alhamdulllah sebagai salah satu penulis saya dapat gratis…hehe). Untuk itu saya berinisiatif menuliskan resensi bukunya, semoga bisa menjadi gambaran bagi yang belum sempat membacanya.

Selamat membaca…

Thailand, siapa yang tidak kenal negeri satu ini. Ya, ia memang bukan negeri adidaya sebesar Amerika dengan segala pengaruhnya di dunia, tapi namanya cukup dikenal diantara negara di sekitarnya di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Lihatlah bagaimana ia cukup mendominasi di bidang olahraga 7 (tujuh) kali juara umum SEA GAMES, 4 (empat) kali juara piala AFF) demikian juga di sektor pariwisata (29 juta turis asing pd 2015 menurut koran The Nation).

Secara ekonomi, Thailand memang bukan yang terkaya di kawasannya, hanya sepertiga ukuran ekonomi Indonesia (perbandingan Produk Domestik Bruto/PDB Thailand dan Indonesia tahun 2014). Namun kemampuannya menciptakan “kemakmuran” ekonomi bagi rakyatnya jauh lebih baik dari Indonesia Ini menurut saya, bisa dilihat dari indicator makro ekonomi seperti Inflasi hanya 2.9 %, Pengangguran hanya 0.9 %, PDB perkapita $ 5,771 $ (data tahun 2015 dr BOT, IMF). Dari beberapa indikator itu jelas lebih baik dari negara kita Indonesia. Meski tentu kita punya kekuatan ekonomi yang berbeda (buat ngadem-ademin…hehe)

Di bidang pendidikan, Thailand memang bukan yang teratas di kawasan. Tapi perkembangan capainnya akhir-akhir ini cukup diperhitungkan. Mengutip dari tulisan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok, Dr. Yunardi Yusuf, dalam kata sambutannya di buku ini, bahwa berdasarkan data dari SCOPUS (salah satu indeks jurnal terpercaya di dunia) yang diakses pada Bulan Agustus 2013, publikasi ilmiah internasional satu universitas di Thailand misal Mahidol University sejumlah 20.392 dan Chulalongkorn University sekitar 16.874, jauh mengalahkan publikasi ilmiah universitas-universitas unggulan di Indonesia misalnya ITB dengan 2.992 karya atau UI yang hanya sekitar 2.645 pada tahun yang sama. Hal ini cukup menjadi gambaran bagaimana kualitas pendidikan di negeri gajah putih ini dibandingkan dengan perguruan tinggi Indonesia. Meski tentu kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari itu saja.

Meskipun demikian, barangkali masih jarang terbayangkan di benak orang Indonesia untuk melakukan studi di Thailand. Termasuk bagi saya sendiri, tidak pernah terimpikan sebelumnya untuk melanjutkan studi di negeri satu ini. Memang sudah jadi anggapan umum masyarakat Indonesia, bahwa studi lanjut biasanya di Amerika, Jepang ataupun negara-negara Eropa. Jarang yang terbersit keinginan melanjutkan studi ke negara tetangga di Asia Tenggara, terlebih Thailand. Selain karena secara social ekonomi Thailand relative tidak jauh berbeda dengan Indonesia, pengenalan kualitas pendidikan di Thailand juga belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat Indonesia dibandingkan misalnya dengan Amerika, Jepang ataupun negara-negara Eropa yang sudah masyhur di dunia.

Pengalaman belajar di Thailand dengan segala tetek-bengeknya itulah yang kemudian ternyata melahirkan segudang cerita bagi teman-teman mahasiswa Indonesia di sana. Sebagaimana diramu dengan apik dalam buku “Merah Putih di Negeri Gajah Putih”. Buku setebal 284 halaman yang diterbitkan atas kerjasama Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (PERMITHA) dan Lembaga Ladang Kata Jogja dan didukung penung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok ini cukup menjadi gambaran bagaimana suka-duka mahasiswa Indonesia yang sedang menggapai impian pendidikannya di Thailand.

20151104_051041 copy
Sampul Belakang

Buku bersampul merah dengan latar belakang foto kegiatan mahasiswa Indonesia di Thailand yang diplot dalam bentuk peta negeri gajah putih ini berisi 54 kisah warna-warni kehidupan mahasiswa Indonesia di Thailand. Penulis terdiri dari 36 mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang sedang atau telah menimba Ilmu di Thailand yang berasal dari sekitar 15 kampus yang ada di Thailand. Mulai dari ujung utara seperti Mae Fah Luang University di Chiang Rai, daerah tengah seperti Mahasarakam University, dari Ibukota Bangkok Chulalongkorn University hingga teman-teman mahasiswa di ujung selatan Thailand seperti dari Prince of Songkhla University.

Latar belakang penulis yang berasal dari kampus yang berbeda, hidup di wilayah (Thailand) yang berbeda dan dengan latar belakang berbeda (alamat asal, pendidikan, jurusan dll) membuat ragam tulisan di buku ini kian berwarna. Banyak cerita yang terungkap mulai dari hal yang terkesan “remeh-temeh” seperti bagaimana mencari makanan halal, menanyakan arah , hingga cerita tentang problem kuliah dan bahkan ada juga tulisan sejarah.

Kendala bahasa banyak mendominasi tulisan di buku ini. Betul bahwa “masalah” ternyata membawa “hikmah”. Ya karena ada kendala justeru jadi cerita. Seperti halnya cerita pengalaman saya yang dituliskan di buku ini dengan judul “Mahasiswa S2 Serasa Anak TK” (hal. 251), merupakan cerita bagaimana pentingnya penguasaan bahasa (local) dalam pergaulan Internasional. Karena meski saya tinggal di kota metropolitan Bangkok, ternyata tidak banyak warga Thailand yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Sementara saya sendiri hanya tahu bahasa Thailand sekedar “bahasa tarzan”, alias bahasa sekedarnya untuk survival. Tulisan lainnya tentang problem bahasa juga diceritakan mba Yuyun Yuniar

Cerita tentang pergolakan politik di Thailand juga tak kalah serunya. Seperti dituliskan oleh Pak Heru Susetyo, Ph.D, Ketua PERMITHA (PPI Thailand) 2009-2010 yang juga editor buku ini. Dalam tulisannya yang berjudul “Dilarang Berbaju Kuning dan Merah di Bangkok!” (hal.58), alumnus Mahidol University yang juga dosen hukum UI ini menceritakan bahwa ada saatnya di Thailand warna baju menentukan pilihan politiknya. Dan yang lebih serem lagi, hal itu juga bisa mempengaruhi keselamatan seseorang di jalan atau saat pergi keluar (baik itu warga Thailand bahkan warga asing yang tinggal di Thailand). Ya hal itu nyata terjadi di Thailand pada akhir tahun 2008.

20151125_123158 copy.jpg
Salah Satu Tulisan (saya…hehe)

Topik selanjutnya yang juga banyak diceritakan adalah cerita perjalanan alias travelling. Ya, mumpung di studi luar negeri sayang kalo dilewatkan buat jalan-jalan. Menjelajahi negeri orang dengan budaya, bahasa, makanan dan tentu nilai-nilai yang berbeda tentu menarik bagi semua. Seperti cerita perjalanan Pak Hamam “Menikmati Songkhran di Mahasarakham”. Beliau adalah alumnus Thammasat University yang sekarang menjadi Ajarn (dosen) di sana. Tentu beliau sudah fasih berbahasa Thailand, namun seperti beliau ceritakan ternyata beda daerah, bahasa dan dialek thai_nya berbeda pula. Hal ini tentu punya cerita sendiri. Cerita perjalanan lainnya misalnya diceritakan oleh Mas Sony S. Wibowo, alumnus Chulalongkorn University yang “Tergoda Pesona Bunga Matahari” (hal.139). Perjalanan menggunakan kereta api Thailand menuju the largest sun flower field in the world di daerah Lob Buri sekitar 130 km utara Bangkok.

Meski cerita-cerita yang ada di buku ini sangat menarik bahkan kadang membuat tertawa, namun karena merupakan kumpulan cerita dari banyak orang dengan kemampuan menulis yang berbeda-beda, tentu macam-macam “kualitas” tulisannya. Ada yang sudah mahir dan bahkan terbiasa menulis di media massa sehingga mampu menghadirkan tulisan yang enak dibaca. Namun ada yang masih dalam tahap belajar menulis dan merangkai kata-kata (ini saya maksudnya…hehe).

Anyway busway, buku ini enak dibaca dan bisa dijadikan teman perjalanan anda. Atau bagi yang pengin kuliah di Thailand bisa menjadi gambaran seperti apa yang akan anda rasakan kalo kesampaian menimba ilmu di sana. Bagi yang sudah pernah hidup atau kuliah di sana, tentu bisa jadi sarana nostalgia tentang pahit-manisnya kehidupan di negeri sang raja, negeri gajah putih…

 Selamat membaca…

 Purwokerto, 7 January 2016

2 Comments on Merah Putih di Negeri Gajah Putih

  1. Wa’alaikumsalam warahmatullah…
    eh Mba Yulia, gimana kabar mba?
    Bukunya ada di Permitha, tp kalo di Indonesia bisa kontak percetakannya di Jogja, kayaknya masih ada stoknya.
    Bisa hubungi Mas Haqi dr Penerbit “Ladang Kata” di daerah Kotagede. Ada nomor kontak 085743131220, itu ada WA dan LINE nya. di fb friend list sy juga ada…

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. 5 Alasan Kuliah di Thailand | Heri Akhmadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*