Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Resensi Buku: “Millennials Kill Everything” – Blog Pak Heri

Resensi Buku: “Millennials Kill Everything”

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Millennial adalah generasi yg lahir antara tahun 1980-2000 (sumber lain menyebut antara 1980-1996), para ahli menyebutnya “digital native” karena dengan penguasaannya akan teknologi informasi dan komunikasi telah berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Mulai dr dapur, pernikahan hingga perpustakaan diperkirakan semakin tidak relevan bagi generasi ini. Itulah sekilas beberapa catatan dari Buku “Millennial Kill Everything” karangan Yuswohadi dan kawan-kawan. Yuswohadi merupakan pakar pemasaran dan managing partner Inventure, konsultan pemasaran yang sudah malang melintang di Indonesia. Buku setebal 318 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama ini baru saja terbit April 2019 lalu dan sudah tiga kali naik cetak hingga Agustus 2019. Tulisan ini akan mencoba mencatat beberapa poin penting yang dibahas dalam buku ini.

Judul buku ini memang kelihatan “radikal”, menggunakan kata “kill” atau “membunuh” yang tidak hanya berarti merubah, tetapi menghilangkan. Ya, karena memang ada perubahan yang signifikan yang sama sekali berbeda dari misalnya perubahan antara generasi Baby Boomers ke Genenasi X. Sehingga perubahan yang terjadi tidak bersifat “kelanjutan” namun bersifat “patahan” seperti gempa tektonik yang melahirkan bentuk yang tidak linier lagi, dan sama sekali berbeda dari generasi sebelumnya.

Perubahan perilaku generasi milenial yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya tentu karena disebabkan oleh dua hal sekaligus:

  1. Disrupsi TEKNOLOGI DIGITAL
  2. Disrupsi MILENIAL

Perubahan teknologi digital melahirkan model bisnis baru yang sama sekali berbeda, sedangkan generasi milenial memberikan efek perubahan perilaku yang sama sekali baru. Dengan kata lain, yang pertama mempengaruhi dimensi “supply” sedang yang kedua mempengaruhi “demand”.

KARAKTERISTIK UMUM MILENIAL

  • Generasi paling knowledgeable
  • Digital native with smartphone as center of life
  • Bekerja haruslah menyenangkan
  • Milenial is challange-seeker, karena experience is the great thing
  • Casual outfit: working environment, playing environment and living environment
  • Ownership doesn’t matter, access and share do
  • Convenience seeker: generasi termalas karena dimanjakan beragam aplikasi yang memudahkan kehidupan
  • Search, Rating and Review (SRR) decision making – the death of brand
  • Millennial don’t trust corporation, they trust each other
  • Millennial don’t trust interruption, they want interaction: the death of ads
  • More is less: ketika foto menjadi tidak sesakral dahulu

MILLENNIAL’S SKILL PARADOX

Internet dan teknologi informasi telah memungkinkan generasi milenial mempunyai akses yg luas akan informasi dan pengetahuan serta kemampuan kerja yg lebih cepat dan efisien dibanding generasi sebelumnya. Tetapi itu semua ada harganya. Ketergantungan yang tinggi pada perangkat teknologi membuat mereka kehilangan kemampuan dasar berinteraksi sosial bahkan yg paling dasar sekalipun. Seperti kemampuan bertatap muka dan membuat percakapan. Kebiasaan mereka untuk tidak bisa lepas dari gadgetnya membuat tidak terbiasa untuk fokus pada orang lain misal untuk sekedar mengadakan percakapan, dari pada perangkat smartphonenya. Terlebih pada kemampuan komunikasi lebih lanjut seperti negosiasi, berdiskusi dan mengelola keragaman masyarakat.

MILLENNIAL WORKING LIFESTYLE

Coworking space seperti di Stasiun Tawang Semarang ini dan juga mulai banyak di beberapa tempat lainnya merupakan salah satu fenomena untuk mengakomodasi gaya kerja milenial. Fenomena serupa seperti flexible working, gig economy dan digital nomad merupakan gaya baru milenial dalam bekerja. Karena bekerja tak sekedar mencari uang, tetapi juga harus menyenangkan.

Coworking Space di Stasiun Tawang Semarang

PERNIKAHAN

Diantara yang spesial dari generasi milenial adalah pandangan mereka tentang pernikahan. Ada dua hal utama tentang pernikahan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Pertama, ada kecenderungan bahwa milenial menunda pernikahan, meskipun demikian bukan berarti mereka tidak akan menikah sama sekali.

Yang kedua, adalah tentang resepsi atau perayaan pernikahan dari gaya tradisional ke kasual. Selain itu, dalam hal resepsi para milenial juga tidak terlalu menganggap penting untuk bermewah-mewah dan memilih yang affordable. Selain karena mereka memang secara finansial belum mapan, bagi milenial yang menganggap penting value ketimbang pencitraan, pernikahan yang penting esensinya dna menonjolkan kemewahan resepsi sama sekali bukan gaya mereka. Meski tentu akan berhadapan dg budaya keluarganya yg umumnya para generasi old (X).

————————————————————————————————————–

Ditulis dalam rangkaian perjalanan Purwokerto-Rembang-Purwokerto, 21-25 Desember 2019

References:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*